Pada mulanya, Kyle Angelo Rompas nyaris tak bersuara. Remaja berusia 18 tahun itu datang ke PUPA Center sebagai pribadi yang sangat tertutup — hampir enggan berbicara, seakan menyimpan dirinya rapat-rapat dari dunia. Tak ada yang menyangka bahwa dari titik itulah sebuah perjalanan panjang akan bermula.
Di ruang yang aman dan reflektif itu, Kyle memulai proses mengenal dirinya sendiri. Pelan-pelan, satu langkah demi satu langkah, ia belajar berkomunikasi, memberanikan diri berinteraksi, dan meletakkan pondasi hidupnya. Program kemandirian (PUPA Mandiri) menjadi tanah tempat kepercayaan dirinya perlahan berakar.
Seiring waktu, Kyle didorong mencoba hal-hal yang semula berada di luar bayangannya tentang diri sendiri. Ia mendaftar kelas modeling, beberapa kali menapaki cat-walk, bahkan sempat duduk sebagai drummer. Ia rajin berolahraga — dan dari sanalah tumbuh sebuah cita-cita: menjadi seorang pelatih pribadi (personal trainer).
Langkahnya kemudian membawanya ke PUPA Karya, program kesiapan kerja. Di sini Kyle mengasah keterampilan praktis, memahami budaya kerja, dan menjajaki minat profesionalnya. Melalui pelatihan yang terstruktur, pendampingan yang konsisten, dan praktik langsung, ia mulai melihat kemampuannya sendiri tumbuh, sedikit demi sedikit.
Kesempatan itu akhirnya datang: sebuah perusahaan mitra membuka pintu bagi Kyle untuk magang di bidang sumber daya manusia (Human Resources). PUPA mendampingi transisi di kedua sisi — menyiapkan Kyle untuk berinteraksi dan berpraktik di lingkungan kerja yang inklusif, sekaligus menyiapkan tempat kerja untuk menerimanya.
Hari ini, setelah program pendampingan PUPA Center usai, Kyle tetap bekerja di perusahaan itu sebagai karyawan kontrak. Kisahnya menegaskan satu hal yang sederhana namun kerap terlupa: ketika dukungan yang tepat bertemu dengan kesempatan yang nyata, potensi dapat bermetamorfosis menjadi karier yang berkelanjutan.
