Di banyak keluarga, kelulusan SMA dirayakan sebagai gerbang menuju kemandirian, pekerjaan, dan kedewasaan. Namun bagi dewasa muda autistik dan neurodivergen, babak setelah sekolah kerap terasa berbeda — tidak pasti, bahkan membebani. Ada satu pertanyaan yang berulang kali terdengar dari para orang tua: setelah ini, ke mana? Bagaimana anak saya terus bertumbuh ketika bangku sekolah telah ditinggalkan?
Di Indonesia, jalur yang terstruktur bagi dewasa muda autistik selepas pendidikan formal masih terbatas. Sekolah selama ini menyediakan rutinitas, interaksi sosial, dan pembelajaran yang tertata. Ketika semua itu berhenti mendadak seusai kelulusan, keluarga kerap menghadapi kekosongan yang tiba-tiba — hari-hari yang dulu penuh kegiatan berubah lengang, dan kesempatan untuk melatih kemandirian pun menyempit.
Padahal, transisi menuju kedewasaan menyangkut jauh lebih banyak hal daripada sekadar pekerjaan. Ia mencakup komunikasi, rutinitas sehari-hari, regulasi emosi, tanggung jawab, pengambilan keputusan, partisipasi sosial, hingga kepercayaan diri — keterampilan yang tumbuh perlahan, melalui latihan yang berulang dan pengalaman yang nyata.
Salah satu tantangan terbesar setelah SMA justru soal mempertahankan struktur yang bermakna. Banyak dewasa muda autistik merasa lebih tenang dengan rutinitas yang dapat diprediksi dan kegiatan yang terbimbing. Ketika rutinitas itu lenyap begitu saja, kepercayaan diri, motivasi, dan kesejahteraan emosional pun bisa ikut goyah.
Tak jarang keluarga pun kebingungan menentukan langkah yang tepat. Sebagian anak muda terbantu oleh program kesiapan kerja (work readiness); sebagian lain lebih dulu membutuhkan penguatan komunikasi, fungsi eksekutif, partisipasi sosial, atau kecakapan hidup mandiri sebelum melangkah ke dunia kerja. Di sinilah program yang berfokus pada transisi menjadi berharga — yang memadukan kecakapan hidup, partisipasi sosial, dan kesiapan kerja dalam satu lingkungan yang mendukung.
Di PUPA Mandiri, misalnya, fokusnya bukan semata pada hasil pekerjaan, melainkan pada tumbuhnya kepercayaan diri, otonomi, dan partisipasi yang bermakna dalam kehidupan dewasa. Melalui rangkaian program — PUPA Mandiri, PUPA Karya, dan PUPA Access — peserta secara bertahap diperkenalkan pada keterampilan hidup sehari-hari, kesiapan kerja, komunikasi, dan pengalaman berbasis komunitas.
Satu kesadaran penting bagi banyak keluarga: kedewasaan tidak tampak sama pada setiap orang. Keberhasilan tak seharusnya diukur hanya dari pencapaian akademis atau jalur karier yang konvensional. Hidup dewasa yang bermakna bisa berupa keterlibatan vokasional, minat kreatif, pekerjaan dengan dukungan, partisipasi komunitas, relasi sosial, atau bertambahnya kemandirian dalam urusan sehari-hari.
Persiapan pun bisa dimulai jauh sebelum hari kelulusan. Mengajak anak berbagi tanggung jawab rumah tangga, mengatur jadwal, melatih komunikasi, merapikan barang pribadi, atau menggunakan transportasi umum — semua itu menumbuhkan kepercayaan diri dari waktu ke waktu. Perencanaan transisi paling berhasil ketika ditempuh bertahap dan realistis; pengalaman-pengalaman kecil sehari-hari sering kali lebih berarti bagi pertumbuhan jangka panjang daripada tuntutan mendadak akan kemandirian.
Tahun-tahun setelah SMA memang bisa terasa tidak pasti. Tetapi dengan lingkungan yang mendukung, kesempatan yang terstruktur, dan bimbingan yang sabar, ia juga bisa menjadi masa pertumbuhan yang penting — masa ketika dewasa muda autistik dan neurodivergen terus merajut kehidupan dewasa yang bermakna, yang mencerminkan kekuatan, minat, dan kebutuhan mereka masing-masing.
